Kamis, 14 November 2013

Kronologi Kudeta Mursi, diungkapnya

Leave a Comment
Tim pengacara Presiden Mursi mengadakan konferensi pers hari ini, Rabu (13/11/2013). Dalam konferensi ini, disebutkan bahwa Presiden Mursi mengirimkan pesan kepada seluruh rakyat Mesir. Berikut pesan tersebut:
“Rakyat Mesir yang mulia, aku ingin menyampaikan kepada kalian gambaran peristiwa yang terjadi pada tanggal 3 Juli. Peristiwa itu adalah sebuah pengkhianatan kepada rakyat. Apa yang terjadi adalah sebuah kudeta militer.
Kudeta adalah sebuah kejahatan yang melanggar undang-undang dan peraturan dalam menggerakkan militer. Kudeta adalah perbuatan mengkhianati Allah swt. dan Rasul-Nya saat menteri pertahanan melakukan sumpah jabatannya. Kudeta juga perbuatan mengkhianati rakyat, karena telah memecah rakyat Mesir padahal mereka adalah sebuah keluarga.
Read More...

Hari Asyura dan Kebinasaan Orang-orang Dzalim

Leave a Comment
Kedhaliman dengan segala bentuknya adalah hal yang sangat dibenci dalam Islam. Walaupun yang didhalimi bukanlah orang-orang Islam. Karena Allah swt. berfirman dalam sebuah hadits qudsi: “Sesungguhnya Aku tidak akan berbuat dhalim. Aku juga jadikan kedhaliman sebagai sesuatu yang haram kalian lakukan. Maka janganlah kalian saling mendhalimi.”
Ketika pindah ke Madinah, Rasulullah saw. mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram (Asyura). Beliau bertanya, dan mereka menjawab, “Ini adalah hari baik. Ini adalah hari Allah swt. menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya (Firaun). Oleh karena itu Nabi Musa as. melaksanakan puasa pada hari ini.”Rasulullah saw. berkata, “Aku lebih berhak atas Nabi Musa daripada kalian.” Maka Rasulullah saw. pun berpuasa dan memerintahkan umat Islam untuk mengikutinya.
Read More...

Kebaikan pendengki akan terkuras.

Leave a Comment
Hasad atau iri-dengki merupakan satu dari sekian penyakit yang mematikan. Bagaimana tidak, penyakit tersebut, seperti diidentifikasikan oleh Ibnu Hajar, sebagaimana dinukilkan dari kitab Fath al-Bari, seseorang tidak ingin nikmat yang diimiliki orang lain itu bertahan lama.

Bila perlu, segera hilang dari tangannnya. Bahkan, ganti berpindah ke pangkuan pelaku hasad tersebut. Apa dan bagaimana hal ihwal hasud? Topik ini dibahas oleh Mushthafa al-Adawi dalam karyanya yang berjudul, Fiqh al-Hasad.

Sekalipun uraiannya tidak selengkap layaknya sebuah eknsiklopedi, tetapi besutan sosok yang akrab disapa Abu Abdullah itu cukup lengkap dengan bahasa yang renyah dan menyentuh semua lapisan masyarakat. Ini penting lantaran dengki menyerang siapa pun, tak peduli latar belakangnya.

Read More...

Etos Mujahadah

Leave a Comment
Ijtihad, mujahadah, dan jihad merupakan  tiga pilar kunci kemajuan Islam. Ketiga kata ini memiliki akar yang sama, yaitu j-h-d, yang berarti mengerahkan segala daya upaya untuk mengatasi kesulitan dan permasalahan.

Ijtihad adalah kunci kemajuan pendidikan dan pemikiran intelektual; mujahadah merupakan kunci kemajuan mental dan spiritual; sedangkan jihad merupakan kunci kemajuan ekonomi, politik, budaya, dan sosial.
  
Kemajuan yang diwujudkan melalui ijtihad dan jihad  harus ditopang oleh etos mujahadah. Karena mujahadah merupakan penggerak sekaligus pengendali dinamika ijtihad dan jihad.

Read More...

Sabtu, 06 Juli 2013

Mengembalikan Proses Tazkiyah Dalam Sistematika Tarbiyah

Leave a Comment

“Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS. Al-Baqarah. 129)

Sejenak mungkin kita akan berpikir, mengapa sosok Nabi Ibrahim kemudian memunajatkan doa yang termaktub di atas. Al-Qur’an merekam dengan akurat doa Nabi Ibrahim, dimana saat itu Ia dan Ismail tengah membangun kiblat ibadah umat Islam; Ka’bah. Dari petikan ayat di atas kita dapat melihat ada sebuah kegelisahan mendalam yang terdampar jauh dalam palung hati seorang Ibrahim, ada sebuah harapan di kemudian hari ketika mereka tak bernyawa lagi. Yang menjadi pertanyaan besar bagi kita, apa kegelisahan dan harapan itu?

Secara gamblang setidaknya Ibrahim memohon 3 hal besar kepada Allah SWT pada saat itu, yakni: 1) Ibrahim memohon agar kelak Allah SWT melahirkan seorang Rasul bagi anak cucunya yang akan menjadi penyampai wahyu Allah SWT; 2) kemudian Rasul tersebut mengajarkan makna dan hikmah wahyu tersebut; dan 3) terwujudnya proses menyucikan (tazkiyah) hati seorang insan.

Jika kita merujuk pada sejarah, kejahiliyahan bangsa Arab pada saat sebelum di utusnya Rasulullah SAW disebabkan hilangnya proses tarbiyah atau pendidikan yang begitu lama. Adanya rentang waktu ribuan tahun atara Ismail dan Muhammad, sehingga umat saat itu tak mampu membimbing diri menuju kemuliaan hati. Maka dari itu, wajar ketika Ibrahim memanjatkan doa di atas, karena Ia telah mampu melakukan prediksi akurat tentang kondisi umat akhir zaman.

Dari kondisi di atas kita dapat menyusun sebuah hipotesa bahwa tarbiyah adalah sebuah proses mutlak jika sebuah bangsa ingin membangun peradaban yang berlandaskan moralitas dan keanggunan pribadi. Karena pada hakikatnya peradaban yang dibangun hanya berasaskan logika hanya akan tampak kuat di luar, tetapi sesungguhnya begitu keropos internalnya, ini bisa kita lihat dari role model peradaban Persia dan Romawi yang landasannya adalah imperialisme-tirani.

Beranjak dari tarbiyah, maka kita wajib melewati proses-prosesnya agar mampu menghasilkan output yang mendekati ideal. Doa Nabi Ibrahim di atas telah mendeskripsikan poin-poin proses yang mesti dijalani. Jika kita ‘peras’ poin-poin tersebut maka 3 proses yang ada yaitu: 1) Tilawah (membaca); 2) Ta’lim (mengajarkan); dan 3) Tazkiyah (menyucikan). Tetapi proses yang ditawarkan Ibrahim sebagai nabi dan rasul tidak serta-merta Allah SWT terima secara mutlak, dan Ibrahim pun tahu diri dengan posisinya sebagai hamba yang hanya bisa memohon, maka ending dari ayat tersebut yakni kalimat “Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Sehingga, doa Ibrahim tersebut Allah SWT ijabah pada masa Muhammad menyebarkan Islam, dan Al-Qur’an merangkumnya dengan apik pada ayat berikut:

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”.
(QS. Al-Baqarah. 151)

Ayat penyempurna di atas mengandung makna bahwa proses yang ditawarkan Ibrahim melalui mekanisme doanya merupakan proses yang telah mendekati ideal, tetapi kemudian Allah SWT menyempurnakannya dengan mengubah sistematikanya menjadi: Tilawah, Tazkiyah, dan Ta’lim. Sehingga proses tazkiyah lebih didahulukan dibanding ta’lim.

Firman penyempurna di atas menjawab pertanyaan mengapa kemudian, ketika seorang mempelajari ilmu Islam yang berkaitan dengan amal dan ibadah selalu diawali dengan pemahaman mengenai tazkiyah. Bila kita membaca kitab-kitab fiqh, selalu diawali atau ditekankan mengenai thaharah (bersuci) yang merepresentasikan penyucian diri secara fisik, begitu pula jika kita mempelajari ilmu hadist, bab pertama yang akan kita temui dapat dipastikan hadist tentang niat yang substansinya mengenai penyucian diri secara hati. Mengapa hal ini kemudian menjadi fundamental?

Setidaknya Allah ingin menyampaikan ibrah bahwa setiap ibadah yang bersifat ritual dalam Islam tidak akan diterima menjadi sebuah pahala tanpa disertai raga yang suci. Sebuah amalan kebajikan tak kan membuahkan kemaslahatan akhirat tanpa adanya kesucian niat atau keikhlasan. Maka dari itu, menjadi sesuatu yang wajar bila tazkiyah mesti dilakukan lebih dulu sebelum seseorang menerima pelajaran tentang pedoman hidup, karena disadari atau tidak, tanpa kemurnian hati yang hakiki nasehat-nasehat yang diberi hanya akan membeku dalam hati. Tanpa kesucian jiwa, tausyiah-tausyiah seolah angin lalu belaka. Bahkan terkadang, sebuah tangisan hanya menjadi topeng sendu tanpa ruh penyesalan.

Tarbiyah, sebagai sebuah paket penting dalam merekonstruksi umat harus melewati tahapan ini tanpa meninggalkan satu fase pun. Karena telah banyak fenomena menampakkan, seorang yang di tarbiyah dengan membaca serta langsung diajarkan mengenai pedoman hidup tanpa diawali dengan tazkiyah, maka ia akan menyadingkan amar ma’ruf dengan kemungkaran.

Akhirnya, refleksi perang Uhud pun juga menjadi sebuah pelajaran penting bagi para da’i. Bila dalam hati Rasulullah tidak dilakukan penyucian oleh Allah SWT melalui perantara Jibril, boleh jadi Rasulullah tidak akan pernah menerima keislaman Khalid bin Walid yang pada perang Uhud telah menjadi garda terdepan memberangus pasukan muslim beserta 70-an hafidz Al-Qur’annya.

Hayrunizar
Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Komisariat Al-Quds Universitas Sriwijaya

Sumber : http://www.islamedia.web.id/2013/06/mengembalikan-proses-tazkiyah-dalam.html
Read More...