“Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami,
jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan
(jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada
Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah
haji kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha
Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka
seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka
ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan
Al-Hikmah serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS. Al-Baqarah. 129)
Sejenak mungkin kita akan berpikir, mengapa sosok Nabi Ibrahim kemudian
memunajatkan doa yang termaktub di atas. Al-Qur’an merekam dengan akurat
doa Nabi Ibrahim, dimana saat itu Ia dan Ismail tengah membangun kiblat
ibadah umat Islam; Ka’bah. Dari petikan ayat di atas kita dapat melihat
ada sebuah kegelisahan mendalam yang terdampar jauh dalam palung hati
seorang Ibrahim, ada sebuah harapan di kemudian hari ketika mereka tak
bernyawa lagi. Yang menjadi pertanyaan besar bagi kita, apa kegelisahan
dan harapan itu?
Secara gamblang setidaknya Ibrahim memohon 3 hal besar kepada Allah SWT
pada saat itu, yakni: 1) Ibrahim memohon agar kelak Allah SWT melahirkan
seorang Rasul bagi anak cucunya yang akan menjadi penyampai wahyu Allah
SWT; 2) kemudian Rasul tersebut mengajarkan makna dan hikmah wahyu
tersebut; dan 3) terwujudnya proses menyucikan (tazkiyah) hati seorang
insan.
Jika kita merujuk pada sejarah, kejahiliyahan bangsa Arab pada saat
sebelum di utusnya Rasulullah SAW disebabkan hilangnya proses tarbiyah
atau pendidikan yang begitu lama. Adanya rentang waktu ribuan tahun
atara Ismail dan Muhammad, sehingga umat saat itu tak mampu membimbing
diri menuju kemuliaan hati. Maka dari itu, wajar ketika Ibrahim
memanjatkan doa di atas, karena Ia telah mampu melakukan prediksi akurat
tentang kondisi umat akhir zaman.
Dari kondisi di atas kita dapat menyusun sebuah hipotesa bahwa tarbiyah
adalah sebuah proses mutlak jika sebuah bangsa ingin membangun peradaban
yang berlandaskan moralitas dan keanggunan pribadi. Karena pada
hakikatnya peradaban yang dibangun hanya berasaskan logika hanya akan
tampak kuat di luar, tetapi sesungguhnya begitu keropos internalnya, ini
bisa kita lihat dari role model peradaban Persia dan Romawi yang
landasannya adalah imperialisme-tirani.
Beranjak dari tarbiyah, maka kita wajib melewati proses-prosesnya agar
mampu menghasilkan output yang mendekati ideal. Doa Nabi Ibrahim di atas
telah mendeskripsikan poin-poin proses yang mesti dijalani. Jika kita
‘peras’ poin-poin tersebut maka 3 proses yang ada yaitu: 1) Tilawah
(membaca); 2) Ta’lim (mengajarkan); dan 3) Tazkiyah (menyucikan). Tetapi
proses yang ditawarkan Ibrahim sebagai nabi dan rasul tidak serta-merta
Allah SWT terima secara mutlak, dan Ibrahim pun tahu diri dengan
posisinya sebagai hamba yang hanya bisa memohon, maka ending dari ayat
tersebut yakni kalimat “Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana”. Sehingga, doa Ibrahim tersebut Allah SWT ijabah pada
masa Muhammad menyebarkan Islam, dan Al-Qur’an merangkumnya dengan apik
pada ayat berikut:
“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah
mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami
kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan
Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”.
(QS. Al-Baqarah. 151)
Ayat penyempurna di atas mengandung makna bahwa proses yang ditawarkan
Ibrahim melalui mekanisme doanya merupakan proses yang telah mendekati
ideal, tetapi kemudian Allah SWT menyempurnakannya dengan mengubah
sistematikanya menjadi: Tilawah, Tazkiyah, dan Ta’lim. Sehingga proses
tazkiyah lebih didahulukan dibanding ta’lim.
Firman penyempurna di atas menjawab pertanyaan mengapa kemudian, ketika
seorang mempelajari ilmu Islam yang berkaitan dengan amal dan ibadah
selalu diawali dengan pemahaman mengenai tazkiyah. Bila kita membaca
kitab-kitab fiqh, selalu diawali atau ditekankan mengenai thaharah
(bersuci) yang merepresentasikan penyucian diri secara fisik, begitu
pula jika kita mempelajari ilmu hadist, bab pertama yang akan kita temui
dapat dipastikan hadist tentang niat yang substansinya mengenai
penyucian diri secara hati. Mengapa hal ini kemudian menjadi
fundamental?
Setidaknya Allah ingin menyampaikan ibrah bahwa setiap ibadah yang
bersifat ritual dalam Islam tidak akan diterima menjadi sebuah pahala
tanpa disertai raga yang suci. Sebuah amalan kebajikan tak kan
membuahkan kemaslahatan akhirat tanpa adanya kesucian niat atau
keikhlasan. Maka dari itu, menjadi sesuatu yang wajar bila tazkiyah
mesti dilakukan lebih dulu sebelum seseorang menerima pelajaran tentang
pedoman hidup, karena disadari atau tidak, tanpa kemurnian hati yang
hakiki nasehat-nasehat yang diberi hanya akan membeku dalam hati. Tanpa
kesucian jiwa, tausyiah-tausyiah seolah angin lalu belaka. Bahkan
terkadang, sebuah tangisan hanya menjadi topeng sendu tanpa ruh
penyesalan.
Tarbiyah, sebagai sebuah paket penting dalam merekonstruksi umat harus
melewati tahapan ini tanpa meninggalkan satu fase pun. Karena telah
banyak fenomena menampakkan, seorang yang di tarbiyah dengan membaca
serta langsung diajarkan mengenai pedoman hidup tanpa diawali dengan
tazkiyah, maka ia akan menyadingkan amar ma’ruf dengan kemungkaran.
Akhirnya, refleksi perang Uhud pun juga menjadi sebuah pelajaran penting
bagi para da’i. Bila dalam hati Rasulullah tidak dilakukan penyucian
oleh Allah SWT melalui perantara Jibril, boleh jadi Rasulullah tidak
akan pernah menerima keislaman Khalid bin Walid yang pada perang Uhud
telah menjadi garda terdepan memberangus pasukan muslim beserta 70-an
hafidz Al-Qur’annya.
Hayrunizar
Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Komisariat Al-Quds Universitas Sriwijaya
Sumber : http://www.islamedia.web.id/2013/06/mengembalikan-proses-tazkiyah-dalam.html